DESA LONTAR

SELAMAT DATANG DI BLOG DESA LONTAR Desa yang menjadi kebanggaan ku temen temen

Minggu, 18 September 2011

Desaku yang kucinta

Di poskan oleh halim

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai


Siapa sih yang nggak tahu lirik lagu di atas. Oh, maaf, ralat. Siapa sih yang masih ingat lirik lagu di atas?
Cukup sarkastik memang pertanyaan di atas. Saat sd dulu, lagu itu sempat menjadi lagu populer. Jadi standar nilai buat mata pelajaran kesenian. Hampir semua teman sekelas saya hafal lagu dan not angka untuk memainkan lagu itu. Kalau anak generasi sekarang, mungkin lebih hafal lagu-lagu cinta melayu mendayu-dayu yang diputar stasiun tv setiap paginya.
Tapi nggak salah juga kalau akhirnya lagu ini dilupakan. Mereka nggak lagi melihat kenyataan dalam lagu lama itu. Ayah dan bunda telah lama pergi meninggalkan desa. Begitu juga handai taulan lainnya. Semua sibuk berkerja di kota. Hanya berkumpul saat lebaran saja. Hanya tertinggal orang tua lanjut usia di desa. Tertatih-tatih, dan sakit-sakitan tanpa ada yang tahu masihkah esok mereka bercengkrama bersama tetangga.
Desa kini tak lagi permai. Tak ada lagi sawah menghampar. Tak ada lagi padang rumput tempat biasanya anak gembala menggiring ternaknya. Dan tak ada lagi gemericik air sungai yang jernih dan bening. Semua hilang. Berganti dengan bangunan-bangunan megah, tapi tanpa penghuni. Maklum, pemilik aslinya tinggal ratusan kilo jauhnya. Bangunan-bangunan itu ada karena tanah di desa kebetulan murah. Para pemiliknya ingin, setelah mereka lelah di saat tua, setidaknya ada tempat yang nyaman untuk menghabiskan usia yang tersisa. Maka tak heran, patok tanah mulai banyak ditancapkan di desa sehingga tak ada lagi ruang bebas bagi anak kecil bermain bola, atau ruang bagi kambing jawa menghilangkan rasa laparnya.
Lagu Desaku memang pernah hidup. Hanya lagunya. Begiu juga harapan penciptanya. Begitu juga angan para kakek nenek kita yang pernah mendengarkannya. Desaku mungkin cukup dijadikan theme song desa wisata yang masih mempertahankan apa yang tersisa. Setidaknya, pernah ada gambaran desa meski hanya lewat lagu. Hanya sekedar imajinasi keturunan kita di masa depan kelak.

2 komentar: